(Sejarah Musik – sub judul A)
# Alat-alat musik
Seni musik beserta alat-alat musik bangsa Mesir kita ketahui berkat monumen-monumen yang terdapat di negara tersebut. Melalui prasasti-prasasti tersebut diketahui bahwa bangsa Mesir mengenal berbagai alat musik seperti: terompet, tamburine, ketipung, kerincingan (bel), harpa, lyra, gitar, mandolin, seruling dan paduan suara. Mesir mengenal bermacam-macam Tebuni (atau Harpa) dalam bentuk dan ukuran yang berbeda; demikian Lyra ada bermacam-macam jenis; lalu Gitar dan Mandolin; Seruling tunggal dan ganda; dan Paduan Suara yang lengkap beserta para pengiring dengan alat musiknya.
# Peran seni musik
Bagi bangsa Mesir seni musik berperan besar sebagai pengiring: kebaktian, tari-tarian, keluhan duka (ratapan) pada saat kematian dan juga jamuan-jamuan makan.
# Kehidupan musisi
Naskah-naskah Mesir menyebutkan bahwa seniman mendapat tempat yang terhormat dalam istana-istana, sedangkan pemimpin paduan suara adalah orang-orang yang terpandang.
# Pendapat Plato
“Bangsa Mesir menganggap seni musik sebagai kesenian yang sudah tua. Menurut sejarah Mesir, seni musik dikenal sejak raja-raja keturunan dewa-dewa masih memerintah. Mesir percaya bahwa musik berasal dari dewa seni yang bernama Isis. Bagi bangsa Mesir seni lukis, seni pahat dan seni suara adalah seni yang luhur dan indah; bahkan diatur dengan hukum-hukum keramat – dengan adanya hukum tersebut maka kesenian Mesir tidak dimungkinkan mengalami perubahan yang baik dan yang buruk, selama ribuan tahun. Remaja di Mesir hanya diizinkan belajar sopan santun, budi pekerti dan seni musik.”
Secara pribadi Plato mengagumi bangsa Mesir, karena mereka mampu menggunakan seni musiknya sebagai alat pengendali hawa nafsu dan kecenderungan masyarakat terhadap hal-hal yang jahat; namun disisi lain Plato menyayangkan hilangnya daya cipta seni oleh karena hukum yang keramat. Para seniman dilarang untuk menciptakan karya yang menyimpang dari aturan, karenanya kesenian pada bangsa Mesir tidak ada kemajuan.
# Pendapat Herodotus
“Bangsa Mesir hanya boleh menyanyikan lagu-lagu yang berasal dari negerinya sendiri, mereka tidak diperkenankan untuk menyanyikan lagu-lagu dari bangsa lain.”
Namun yang mengherankan Herodotus bahwa di Mesir terdengar pula lagu Yunani dengan judul yang berbeda; yakni Maneros di Mesir atau Linos di Yunani. Lagu Maneros tersebut juga dinyanyikan di Phoenisia, Cyprus dan negeri-negeri lain tetapi dengan judul yang berbeda pula.
# Tangga nada
Sistem nada Mesir tidak begitu terkenal, seperti aturan nada yang terdapat pada bangsa Cina dan India. Sejarah membuktikan bahwa lagu-lagu Mesir kuno memakai paling banyak empat nada karena angka empat merupakan angka keramat bangsa Mesir; dan sampai sekarang di lembah sungai Nil masih terdengar lagu-lagu yang tersusun dari empat nada saja. Meskipun tetrachord baru dirumuskan oleh Pythagoras (570 – 480SM di Yunani) namun dapat pula dianggap sebagai dasar dari seni musik mereka; tetapi sampai sejauh mana Pythagoras mengembangkan bakat musiknya dari Mesir memang tidak begitu jelas, hanya saja menurut sejarah Pythagoras memperoleh cara menentukan tinggi rendah nada dengan alat yang disebut monochord yang berasal dari bangsa Mesir. Pada tahun 3892SM para imam Mesir menentukan tujuh nada yang dianggap suci yang hanya boleh dinyanyikan oleh pria dan wanita di dalam kuil mereka, bahkan nyanyian vokal ini tidak boleh diiringi oleh alat musik apapun.
Rangkuman ini diambil dari buku Sejarah Musik karya Karl Edmund Prier Sj.
how to download mesir music article?
thanks..
U save my group’s score for mid test..